Bahaya Anak Seminggu Tidak BAB

Mom Sharing – Si Kecil sulit BAB tentu menimbulkan kekhawatiran bagi orangtua. Terlebih lagi jika, anak tidak BAB selama seminggu, seketika akan memicu kepanikan orangtua.

Tapi tahukah Bunda? Pola BAB pada anak, untuk normalnya dipengaruhi oleh usia, pola makan dan kebiasaan Si Kecil. Saat masih berusia bayi, pola BAB biasanya mencapai hingga 4 kali sehari, terutama pada minggu-minggu pertama setelah kelahirannya.

Hal ini disebabkan, beberapa enzim pencernaan pencernaan yang dimiliki bayi belum cukup. Kondisi ini seringkali membuat orangtua khawatir dan beranggapan bahwa anak terserang diare, namun hal ini normal terjadi pada bayi.

emudian pada usia 1 hingga 4 tahun, pola BAB Si Kecil  1 sampai 2 kali sehari. Namun, beberapa anak usia 1-3 tahun yang memiliki pola BAB hanya sekali dalam 2 hari. Kondisi ini membuktikan bahwa anggapan anak-anak harus BAB setidaknya sekali dalam sehari. Jadi, jika anak seharian tidak BAB masih dalam normal. Begitu pula di usia berikutnya, pola BAB Si Kecil 1 sampai 2 kali sehari atau 1 kali dalam 2 hari.

Lalu, apa bahayanya jika anak sudah seminggu tidak BAB?

Bunda, anak yang sulit BAB adalah salah satu gejala dari sembelit atau konstipasi. Selain susah BAB, terdapat beberapa gejala penting lainnya yang harus diwaspadai ketika anak tidak BAB hingga berhari-hari. Di antaranya, gejala frekuensi BAB yang bisa berubah, yang sebelumnya anak BAB sekali dalam sehari menjadi berkurang hingga 3 kali dalam seminggu.

Kemudian, konsistensi tinja terkadang sangat besar atau sebaliknya menjadi sangat encer dan keluar sedikit, yang disebut enkopresis. Lalu, rektum dipenuhi tinja yang keras atau pada dinding perut teraba massa tinja.

Selanjutnya, Si Kecil biasanya akan merasakan nyeri ketika ingin BAB. Jika Bunda menemukan salah satu gejala tersebut, artinya anak tengah mengalami sembelit. Sembelit pada anak biasanya dapat dipicu oleh beberapa hal, antara lain:

  1. Makan Tak Teratur

Untuk anak kecil, makan secara teratur sangat penting agar organ pada pencernaannya bekerja dengan baik. Setidaknya, anak harus makan 3 kali dalam sehari disertai dengan selingan seperti buah-buahan atau cemilan sehat lainnya.

Akan tetapi, meski makan sudah teratur namun menu tidak menyehatkan Si Kecil justru akan memicu masalah pencernaan. Apalagi jika anak tidak mendapatkan asupan makanan yang mengandung serat, sehingga sangat mungkin anak akan mengalami sembelit.

Selain itu, gangguan BAB pada anak-anak juga dapat disebabkan anak yang suka minum susu namun tidak diimbangi dengan makanan mengandung serat.

 

  1. Sering Menahan BAB

Keasyikan bermain, hingga takut ke toilet sendirian sering membuat anak menahan BAB. Kebiasaan menahan BAB ini dapat menyebabkan terjadinya gangguan motilitas dan meningkatnya penyerapan air dari tinja dalam usus sehingga menjadi keras dan sulit dikeluarkan.

Selain itu, anak yang sering menahan BAB bisa dikarenakan trauma akibat rasa sakit saat BAB. Jika tidak segera mendapatkan penanganan, dikhawatirkan kondisi ini semakin parah dan anak semakin sering menahan BAB.

 

  1. Adanya Penyakit

Sembelit diduga juga bisa muncul karena adanya penyakit. Misalnya, kekurangan cairan dan mengalami penurunan berat badan dengan kronis pada yang bukan disebabkan oleh diare.

Selain itu, bisa saja anak mengalami kelebihan zat kapur dalam tubuh. Namun, tidak diketahui sebabnya atau kelainan yang diikuti pengeluaran air seni secara berlebihan.

Jika sudah sembelit, anak harus segera mendapat penanganan sesuai penyebabnya. Dikhawatirkan, sembelit yang cenderung menetap akan semakin parah bila tidak segera diatasi. Akibatnya akan mengganggu kondisi tubuh Si Kecil hingga berdampak pada kesehatannya.

Selain memeriksakan anak ke dokter untuk mengetahui Si Kecil tidak BAB hingga seminggu, Bunda dapat mengajak anak untuk melakukan aktivitas fisik, misalnya berolahraga. Kemudian, pastikan anak makan dengan teratur disertai pemenuhan asupan nutrisi dan serat yang cukup.

Bunda juga dapat memberikan makanan berkabohidrat tinggi yang tidak dicerna atau mengandung glukosa polimer, misalnya beras dan sereal. Lengkapi menu makanan Si Kecil dengan sayuran hijau dan buah-buahan, seperti pepaya, alpukat, dan jeruk. (Yolaristania Vidiani)

 

About The Author

Reply